6 Sep 2010

Berbagai Pertanyaan di Pengujung Ramadhan

Kualitas amaliah kita kepada Allah SWT tidak diukur melalui jumlah, kuantitas, berat, dan ringannya ibadah. Akan tetapi, diukur oleh jiwa yang ikhlas. Keikhlasan itu hanya muncul dari jiwa yang zuhud, hati yang tidak dipenuhi oleh hasrat, kecuali hanya kepada Allah. Karena itu, walaupun kecil, sedikit, dan barangkali sepele, jika amaliah itu muncul dari jiwa yang zuhud, nilainya justru besar dan banyak.

Sebaliknya, jika amaliah itu dihitung dengan kuantitas, bahkan dilakukan oleh ribuan orang, tapi keikhlasan dan kezuhudan tidak tertanam dalam hatinya, sebanyak apa pun amaliah itu tetap dinilai kecil. Bagi seorang zahid, amaliah adalah sesuatu yang muncul dari jiwa yang kosong dan dari kepentingan nafsu duniawi. Karena itu, "Dua rakaat dari seorang alim yang zahid itu lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah orang yang beribadah, tapi penuh ambisi duniawi," terang Nabi Muhammad SAW sebagaimana diriwayatkan melalui Ibnu Mas'ud RA.

Dengan demikian, ukuran kualitas amal kita terletak dari keikhlasan dan kezuhudan meraih ridha Allah SWT dan surga-Nya. Nah, Ramadhan sebenarnya datang untuk meletakkan pemahaman kita dalam 'halte' ini. Kita berpuasa lalu berbuka. Kita tegakkan yang wajib, bahkan ditambah dengan yang sunah, tangan kita terbuka dan membentang sedekah, yang semua itu harus dikendarai dengan penuh keikhlasan dan kezuhudan sehingga akan mudah sampai pada terminal ridha dan surga-Nya.

Kini, secara perlahan, Ramadhan yang agung akan meninggalkan kita. Tinggal menghitung hari, kita akan menyelesaikan ibadah puasa dan setelah itu berlebaran. Lantas muncul pertanyaan, apa yang telah kita dapat selama bulan penuh rahmat dan ampunan ini? Apakah ada sesuatu yang baru dapat kita petik dari hikmah puasa yang bakal kita terapkan dalam kehidupan kita setelah Ramadhan? Apakah puasa kita kali ini tidak jauh beda dengan puasa-puasa sebelumnya?

Berbagai pertanyaan itu patut kita sampaikan dalam rangka merenungkan kembali apa yang telah kita lakukan selama menjalankan ibadah Ramadhan. Banyak yang mengatakan, kecenderungan kita lebih banyak melaksanakan ibadah puasa sebagai ritual rutin karena bulan Ramadhan akan selalu ditemui setiap tahun. Banyak orang berpuasa karena memang waktunya berpuasa. Kita berpuasa malah karena kebanyakan orang berpuasa. Artinya, puasa tidak lebih karena mengikuti tradisi.

Tentu saja kita semua tidak mau dituduh berpuasa karena mengikuti tradisi. Bagaimanapun, ada juga dalih bahwa kita berpuasa karena benar-benar mau mengikuti ajaran agama. Ada yang ingin kita kejar yaitu kesucian diri dan kemenangan. Ada yang ingin kita incar, yaitu menjadi manusia ikhlas, zuhud, dan istikamah dalam merangkai ketakwaan. Dalam takwa, ada keseriusan dan ketaatan. Berarti Ramadhan menempa kita untuk menjadi manusia yang serius dalam ketaatan kepada-Nya. Dengan demikian, kesucian diri itu akan kita dapatkan dan kemenangan pun bisa kita raih, yaitu kembali kepada kesucian dan meraih kemenangan di hari yang fitri.

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

2 Sep 2010

Lailatul Qadr (Malam Kemuliaan)

Allah Ta ‘ala berfirman:Ilustrasi (photobucket.com)

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5)

Allah SWT memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhaan: 3). Dan malam itu berada di bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta ‘ala: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhu- berkata:

“Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (langit pertama) pada malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun.”

Malam itu dinamakan Lailatul Qadar karena keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah Ta ‘ala. Juga, karena pada saat itu ditentukan ajal, rezki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhaan: 4). Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yang Dia khususkan untuk menurunkan Al-Qur’anul Karim: “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?” Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya: “Lailatul Qadar itu lebih baik dari pada seribu bulan.”

Beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, doa dsb sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan. Lalu Allah memberitahukan keutamaannya yang lain, juga berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah. Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya: “Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” (QS. Al-Qadar: 5)

Maksudnya, malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).

Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan.

Adapun qiyamul lail di dalamnya yaitu menghidupkan malam tersebut dengan shalat tarawih, shalat tahajjud, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, doa, istighfar dan taubat kepada Allah Ta ‘ala. Beberapa pelajaran dari surat Al-Qadr:

1. Keutamaan Al-Qur’anul Karim serta ketinggian nilainya, dan bahwa ia diturunkan pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan).

2. Keutamaan dan keagungan Lailatul Qadar, dan bahwa ia menyamai seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya.

3. Anjuran untuk mengisi kesempatan-kesempatan baik seperti malam yang mulia ini dengan berbagai amal shalih.

dakwatuna.com –
Kajian.Net
Koleksi Ceramah Islam MP3